SELAMAT DATANG DI SITUS BIDAN SMART HELSE NOPIANA
Tampilkan postingan dengan label kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebidanan. Tampilkan semua postingan

2.20.2011

MAKALAH BIOREP

Makalah Biorep

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah dan rahmat-Nya kepada kita semua sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini.
Pada makalah ini penyusun membahas tentang “Fisiologi Laktasi” guna memenuhi tugas Biologi Kesehatan yang diberikan oleh Dosen pengajar mata kuliah ini.
Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat bermanfaat dan mendorong minat membaca kita sebagai mahasiswi untuk lebih belajar atau memahami isi makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, maka kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang membaca makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat berguna terkhusus dalam penggembangan Pelayanan Kesehatan


Tangerang, Juni 2009



Penyusun

Helse Nopiana



DAFTAR ISI


Kata Pengantar..............................................................
Daftar Isi.......................................................................
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang....................................................
B. Tujuan Penulisan.................................................
Bab II Pembahasan
A. Fisiologi Laktasi...................................................
B. Produksi ASI........................................................
C. Pengeluaran ASI..................................................
D. Pemeliharaan ASI.................................................
E. ASI.........................................................................
Bab III Penutup............................................................
Daftar Pustaka...............................................................



BAB I
PENDAHULUAN


I.I LATAR BELAKANG

Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat mutu hidup, produktifitas tenaga kerja, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak, menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak langsung dari masalah gizi kurang.
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu masalah gizi yang paling utama pada saat ini di Indonesia adalah kurang kalori, protein hal ini banyak ditemukan bayi dan anak yang masih kecil dan sudah mendapat adik lagi yang sering disebut “kesundulan” artinya terdorong lagi oleh kepala adiknya yang telah muncul dilahirkan. Keadaan ini karena anak dan bayi merupakan golongan rentan.
Terjadinya kerawanan gizi pada bayi disebabkan karena selain makanan yang kurnag juga karena Air Susu Ibu (ASI) banyak diganti dengan susu botol dengan cara dan jumlah yang tidak memenuhi kebutuhan. Hal ini pertanda adanya perubahan sosial dan budaya yang negatif dipandang dari segi gizi.
Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar empat bulan. Setelah itu ASI hanya berfungsi sebagai sumber protein vitamin dan mineral utama untuk bayi yang mendapat makanan tambahan yang tertumpu pada beras.

ASI merupakan makanan yang bergizi sehingga tidak memerlukan tambahan komposisi. Disamping itu ASI mudah dicerna oleh bayi dan langsung terserap. Diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalam jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya secara penuh tanpa makanan tambahan. Selama enam bulan pertama. Bahkan ibu yang
gizinya kurang baikpun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama tiga bulan pertama.
ASI sebagai makanan yang terbaik bagi bayi tidak perlu diragukan lagi, namun akhir-akhir ini sangat disayangkan banyak diantara ibu-ibu meyusui melupakan keuntungan menyusui. Selama ini dengan membiarkan bayi terbiasa menyusu dari alat pengganti, padahal hanya sedikit bayi yang sebenarnya menggunakan susu botol atau susu formula. Kalau hal yang demikian terus berlangsung, tentunya hal ini merupakan ancaman yang serius terhadap upaya pelestarian dari peningkatan penggunaan ASI.
Hasil penelitian yang dilakukan di Biro Konsultasi Anak di Rumah Sakit UGM Yogyakarta tahun 1976 menunjukkan bahwa anak yang disusui sampai dengan satu tahun 50,6%. Sedangkan data dari survei Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 1991 bahwa ibu, yang memberikan ASI pada bayi 0-3 bulan yaitu 47% diperkotaan dan 55% dipedesaan (Depkes 1992) dari laporan SKDI tahun 1994 menunjukkan bahwa ibu-ibu yang memberikan ASI EKSLUSIF kepada bayinya mencapai 47%, sedangkan pada repelita VI ditargetkan 80%.
Berbagai alasan dikemukakan oleh ibu-ibu mengapa keliru dalam pemanfaatan ASI secara Eksklusif kepada bayinya, antara lain adalah produksi ASI kurang, kesulitan bayi dalam menghisap, keadaan puting susu ibu yang tidak menunjang, ibu bekerja, keinginan untuk disebut modern dan pengaruh iklan/promosi pengganti ASI dan tdak kalah pentingnya adalah anggapan bahwa semua orang sudah memiliki pengetahuan tentang manfaat ASI.

I.II TUJUAN PENULISAN
A. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan Makalah ini adalah agar Mahasiswa memahami tentang fisiologi laktasi.
B. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan Makalah ini adalah agar :
1. Mahasiswa mampu menjelaskan proses produksi ASI
2. Mahasiswa mampu untuk mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI
3. Mahasiswa mampu mengungkapkan keuntungan ASI, baik bagi Ibu maupun bagi Bayi.
4. Mahasiswa mampu mengungkapkan cara-cara pemeliharaan ASI



BAB II
PEMBAHASAN


A. Fisiologi Laktasi
Air susu ibu (ASI) adalah cairan kehidupan yang sangat dibutuhkan oleh bayi.
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayinya.
Sedangkan ASI Ekslusif adalah perilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sampai umur 4 (empat) bulan tanpa makanan dan ataupun minuman lain kecuali sirup obat. (6).
ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 4 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.
Air susu terbentuk dari dua fase, yaitu fase sekresi dan pengaliran. Pada bagian pertama, susu disekresikan oleh sel kelenjar kedalam lumen alveoli. Pada fase kedua, air susu yang dihasilkan oleh kelenjar dialihkan ke puting susu, setelah sebelumnya terkumpul dalam sinus. Selama kehamilan berlangsung, laktogenesis kemungkinan besar terkunci oleh pengaruh progesteron pada sel kelenjar. Seusai partus, kadar hormon ini menyusut drastis, memberi kesempatan prolaktin untuk bereaksi sehingga mengimbas laktogenesis.
Laktasi diawasi oleh dua macam refleks, yaitu The Milk Production Reflekx dan The Let Down Reflex. Manakala Bayi mengisap puting susu, serangkaian impuls akan menuju Medula Spinalis, lalu ke Otak, dan menyusut kedalam kelenjar Hipofisis, memicu sekresi Oksitosin pada bagian posterior Hipofisis. Keberdaan Oksitoksin menyebabkan kontraksi sel-sel epitel otot polos yang membungkus alveolus sehingga air susu yang terkandung didalamnya tersembur ke setiap Duktus dan Sinus.
Laktasi adalah proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI. Pengaruh Hormonal mulai dari bulan ketiga kehamilan, tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara :
a. Progesteron : Mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran Alveoli. Tingkat progesteron dan Estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi secara besar-besaran.
b. Estrogen : Menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Tingkat estrogen menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui. Karena itu, sebaiknya Ibu menyusui menghindari KB Hormonal berbasis hormon Estrogen, karena dapat mengurangi jumlah produksi ASI.
c. Follicle Stimulating Hormone (FSH), Luteinizing Hormone (LH).
d. Prolaktin : Berperan dalam membesarnya Alveoli dalam kehamilan.
e. Oksitoksin : Mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Setelah melahirkan, Oksitoksin juga mengencangkan otot halus di sekitar Alveoli untuk memeras ASI menuju saluran Susu. Oksitoksin berperan dalam proses dalam turunnya susu let-down/ milk ejection reflex.
f. Human Placental Lactogen (HPL) : Sejak bulan kedua kehamilan, Plasenta mengeluarkan banyak HPL, yang berperan dalam pertumbuhan Payudara, puting, dan Aerola sebelum melahirkan. Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, Payudara siap memproduksi ASI.

B. Produksi ASI
ASI (Air Susu Ibu) merupakan cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar
payudara wanita melalui proses laktasi. ASI terdiri dari berbagai komponen gizi dan
non gizi. Komposisi ASI tidak sama selama periode menyusui, pada akhir menyusui
kadar lemak 4-5 kali dan kadar protein 1,5 kali lebih tinggi daripada awal menyusui.
Juga terjadi variasi dari hari ke hari selama periode laktasi. Keberhasilan laktasi
dipengaruhi oleh kondisi sebelum dan saat kehamilan. Kondisi sebelum kehamilan
ditentukan oleh perkembangan payudara saat lahir dan saat pubertas. Pada saat
kehamilan yaitu trimester II payudara mengalami pembesaran karena pertumbuhan
dan difrensiasi dari lobuloalveolar dan sel epitel payudara. Pada saat pembesaran
payudara ini hormon prolaktin dan laktogen placenta aktif bekerja yang berperan
dalam produksi ASI (Suharyono, 1990).
Sekresi ASI diatur oleh hormon prolaktin dan oksitosin. Prolaktin
menghasilkan ASI dalam alveolar dan bekerjanya prolaktin ini dipengaruhi
oleh lama dan frekuensi pengisapan ( suckling). Hormon oksitosin disekresi
oleh kelenjar pituitary sebagai respon adanya suckling yang akan
menstimulasi sel-sel mioepitel untuk mengeluarkan ( ejection) ASI. Hal ini
dikenal dengan milk ejection reflex atau let down reflex yaitu mengalirnya
ASI dari simpanan alveoli ke lacteal sinuses sehingga dapat dihisap bayi
melalui puting susu.
Terdapat tiga bentuk ASI dengan karakteristik dan komposisi berbeda yaitu
kolostrum, ASI transisi, dan ASI matang (mature). Kolostrum adalah cairan yang
dihasilkan oleh kelenjar payudara setelah melahirkan (4-7 hari) yang berbeda
karakteristik fisik dan komposisinya dengan ASI matang dengan volume 150 – 300
ml/hari. ASI transisi adalah ASI yang dihasilkan setelah kolostrum (8-20 hari)
dimana kadar lemak dan laktosa lebih tinggi dan kadar protein, mineral lebih rendah.
ASI matang adalah ASI yang dihasilkan 21 hari setelah melahirkan dengan
volume bervariasi yaitu 300 – 850 ml/hari tergantung pada besarnya stimulasi saat
laktasi. Volume ASI pada tahun pertama adalah 400 – 700 ml/24 jam, tahun kedua
200 – 400 ml/24 jam, dan sesudahnya 200 ml/24 jam. Dinegara industri rata-rata
volume ASI pada bayi dibawah usia 6 bulan adalah 750 gr/hari dengan kisaran 450 –
1200 gr/hari (ACC/SCN, 1991). Pada studi Nasution.A (2003) volume ASI bayi
usia 4 bulan adalah 500 – 800 gr/hari, bayi usia 5 bulan adalah 400 – 600 gr/hari,
dan bayi usia 6 bulan adalah 350 – 500 gr/hari.
Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
A. Colostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan redual material yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak.
- Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat, dari masa laktasi.
- Komposisi colostrum dari hari ke hari berubah.
- Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan ASI Mature.
- Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
- Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature, tetapi berlainan dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah casein pada colostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.
- Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
- Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Mature.
- Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml colostrum.
- Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.
- Bila dipanaskan menggumpal, ASI Mature tidak.
- PH lebih alkalis dibandingkan ASI Mature.
- Lemaknya lebih banyak mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI Mature.
- Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi krang sempurna, yangakan menambah kadar antobodi pada bayi.
- Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.
B. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
- Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature.
- Disekresi dari hari ke 4 – hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada minggu ke 3 – ke 5.
- Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi.
- Volume semakin meningkat.

©2004 Digitized by USU digital library 4
C. Air Susu Mature
- ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
- Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yangs ehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertamabagi bayi.
- ASI merupakan makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untu bayi.
- Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung casienat, riboflaum dan karotin.
- Tidak menggumpal bila dipanaskan.
- Volume: 300 – 850 ml/24 jam
- Terdapat anti microbaterial factor, yaitu:
• Antibodi terhadap bakteri dan virus.
• Cell (phagocyle, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T)
• Enzim (lysozime, lactoperoxidese)
• Protein (lactoferrin, B12 Ginding Protein)
• Faktor resisten terhadap staphylococcus.
• Complecement ( C3 dan C4)

Produksi ASI dapat meningkat atau menurun tergantung pada stimulasi pada kelenjar payudara terutama pada minggu pertama laktasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI antara lain :
1. Frekuensi Penyusuan
Pada studi 32 ibu dengan bayi prematur disimpulkan bahwa produksi
ASI akan optimal dengan pemompaan ASI lebih dari 5 kali per hari selama
bulan pertama setelah melahirkan. Pemompaan dilakukan karena bayi
prematur belum dapat menyusu (Hopkinson et al, 1988 dalam ACC/SCN,
1991). Studi lain yang dilakukan pada ibu dengan bayi cukup bulan
menunjukkan bahwa frekuensi penyusuan 10 3 kali perhari selama 2
minggu pertama setelah melahirkan berhubungan dengan produksi ASI yang
cukup (de Carvalho, et al, 1982 dalam ACC/SCN, 1991). Berdasarkan hal ini
direkomendasikan penyusuan paling sedikit 8 kali perhari pada periode awal
setelah melahirkan. Frekuensi penyusuan ini berkaitan dengan kemampuan
stimulasi hormon dalam kelenjar payudara.

2. Berat Lahir
Prentice (1984) mengamati hubungan berat lahir bayi dengan volume ASI.
Hal ini berkaitan dengan kekuatan untuk mengisap, frekuensi, dan lama penyusuan
dibanding bayi yang lebih besar. Berat bayi pada hari kedua dan usia 1 bulan sangat
erat berhubungan dengan kekuatan mengisap yang mengakibatkan perbedaan intik
yang besar dibanding bayi yang mendapat formula. De Carvalho (1982) menemukan
hubungan positif berat lahir bayi dengan frekuensi dan lama menyusui selama 14
hari pertama setelah lahir. Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan
mengisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi yang berat lahir normal (> 2500 gr).
Kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama
penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan
mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI.

3. Umur Kehamilan saat Melahirkan
Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi intik ASI. Hal ini disebabkan
bayi yang lahir prematur (umur kehamilan kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan
tidak mampu mengisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah daripada
bayi yang lahir tidak prematur. Lemahnya kemampuan mengisap pada bayi prematur
dapat disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnanya fungsi organ.

4. Umur dan Paritas
Umur dan paritas tidak berhubungan atau kecil hubungannya dengan
produksi ASI yang diukur sebagai intik bayi terhadap ASI. Lipsman et al (1985)
dalam ACC/SCN (1991) menemukan bahwa pada ibu menyusui usia remaja dengan
gizi baik, intik ASI mencukupi berdasarkan pengukuran pertumbuhan 22 bayi dari
25 bayi. Pada ibu yang melahirkan lebih dari satu kali, produksi ASI pada hari
keempat setelah melahirkan lebih tinggi dibanding ibu yang melahirkan pertama kali
(Zuppa et al, 1989 dalam ACC/SCN, 1991), meskipun oleh Butte et al (1984) dan
Dewey et al (1986) dalam ACC/SCN, (1991) secara statistik tidak terdapat
hubungan nyata antara paritas dengan intik ASI oleh bayi pada ibu yang gizi baik.

5. Stres dan Penyakit Akut
Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu laktasi sehingga mempengaruhi
produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI. Pengeluaran ASI akan
berlangsung baik pada ibu yang merasa rileks dan nyaman. Studi lebih lanjut
diperlukan untuk mengkaji dampak dari berbagai tipe stres ibu khususnya
kecemasan dan tekanan darah terhadap produksi ASI. Penyakit infeksi baik yang
kronik maupun akut yang mengganggu proses laktasi dapat mempengaruhi produksi
ASI.

6. Konsumsi Rokok
Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu hormon
prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan
adrenalin dimana adrenalin akan menghambat pelepasan oksitosin. Studi
Lyon,(1983); Matheson, (1989) menunjukkan adanya hubungan antara merokok dan
penyapihan dini meskipun volume ASI tidak diukur secara langsung. Meskipun
demikian pada studi ini dilaporkan bahwa prevalensi ibu perokok yang masih
menyusui 6 – 12 minggu setelah melahirkan lebih sedikit daripada ibu yang tidak
perokok dari kelompok sosial ekonomi sama, dan bayi dari ibu perokok mempunyai
insiden sakit perut yang lebih tinggi. Anderson et al (1982) mengemukakan bahwa
ibu yang merokok lebih dari 15 batang rokok/hari mempunyai prolaktin 30-50%
lebih rendah pada hari pertama dan hari ke 21 setelah melahirkan dibanding dengan
yang tidak merokok.

7. Konsumsi Alkohol
Meskipun minuman alkohol dosis rendah disatu sisi dapat membuat ibu
merasa lebih rileks sehingga membantu proses pengeluaran ASI namun disisi lain
etanol dapat menghambat produksi oksitosin. Kontraksi rahim saat penyusuan
merupakan indikator produksi oksitosin. Pada dosis etanol 0,5-0,8 gr/kg berat badan
ibu mengakibatkan kontraksi rahim hanya 62% dari normal, dan dosis 0,9-1,1 gr/kg
mengakibatkan kontraksi rahim 32% dari normal (Matheson, 1989).

8. Pil Kontrasepsi
Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestin berkaitan
dengan penurunan volume dan durasi ASI (Koetsawang, 1987 dan Lonerdal, 1986
dalam ACC/SCN, 1991), sebaliknya bila pil hanya mengandung progestin maka
tidak ada dampak terhadap volume ASI (WHO Task Force on Oral Contraceptives,
1988 dalam ACC/SCN, 1991). Berdasarkan hal ini WHO merekomendasikan pil
progestin untuk ibu menyusui yang menggunakan pil kontrasepsi.

C. Pengeluaran ASI
Dua factor yang terlibat dalam mengalirkan air susu dari sel-sel sekretorik ke papilla mammae.
a. Tekanan dari Belakang
Tekanan globuli yang baru terbentuk didalam sel akan mendorong globuli tersebut kedalam tubuli laktifer dan pengisapan oleh Bayi akan memacu sekresi air susu lebih banyak.
b. Refleks Neurohormonal
Apabila Bayi disusui, maka gerakan mengisap yang berirama akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat didalm Glandula Pituitari Posterior. Akibat langsung refleks ini adalah dikeluarkannya Oksitoksin dari Pituitari Posterior, hal ini akan menyebabkan sel-sel Mioepitel disekitar Alveoli akan berkontraksi dan mendorong air susu masuk kedalam pembuluh Lactifer, dan dengan demikian lebih banyak air susu yang mengalir kedalam Ampula. Refleks ini dapat dihambat oleh adanya rasa sakit, misalnya Jahitan perineum. Dengan demikian penting untuk menempatkan Ibu dalam posisi yang nyaman, santai dan bebas dari rasa sakit, terutama pada jam-jam menyusukan anak. Sekresi Oksitoksin yang sama juga akan menyebabkan otot uterus berkontraksi dan membantu involusi uterus selama puerperium (masa nifas).

Kalau ASI tidak lancar, ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai berikut:

1. Penuhi kebutuhan nutrisi. Sebaiknya pada masa menyusui, ibu mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gizi yang baik dan seimbang. Sebab hal ini bisa memperlancar dan memperbanyak produksi ASI.

2. Hilangkan gangguan psikologis yang sedang dialami, misalnya stres karena beban kerja yang terlalu berat di kantor atau masalah lain. Semakin stres, semakin berkurang produksi ASI. Faktor kejiwaan ini tidak hanya akan berpengaruh terhadap si ibu tapi juga bayinya karena konsumsi ASI menjadi berkurang.

3. Produksi ASI juga ditentukan oleh frekuensi bayi meminumnya. Semakin sering bayi menghisap ASI, produksi air susu makin banyak. Jika ibu bekerja, sebaiknya mereka memerah ASI sebelum pergi ke tempat kerja.

4. Lakukanlah perawatan payudara secara teratur dengan pemijatan sendiri.

5. Dukungan dari ayah juga sangat menentukan, terutama untuk menenangkan dan memberi dukungan kepada ibu. Karena itu, peran ayah sangat diperlukan guna mendukung ibu untuk terus memberikan ASI kepada bayinya. Dukungan semacam ini akan membuat ibu menjadi lebih tenang secara psikologis sehingga produksi ASI-nya juga melimpah.


D. Pemeliharaan ASI
Penyediaan berlangsung terus sesuai kebutuhan. Apabila Bayi tidak disusukan, maka tidak akan dimulai penyediaan air susu. Apabila seorang Ibu Bayi kembar menyusukan kedua Bayinya bersama, maka penyediaan air susu akan tetap cukup untuk kedua Bayi tersebut. Makin sering Bayi disusukan, penyediaan air susu Ibu juga makin baik. Tiga faktor penting untuk pemeliharaan laktasi adalah :
a. Rangsangan
Bayi yang minum air susu Ibu perlu sering menyusui, terutama pada hari-hari Neonatal awal. Penting bahwa Bayi Difiksasi. Pada payudara dengan posisi yang benar apabila diinginkan untuk meningkatkan rangsangan yang tepat. Rangsangan gusi Bayi sebaiknya berada pada kulit Aerola, sehingga tekanan diberikan kepada Ampulla yang ada dibawahnya sebagai tempat tersimpannya air susu. Dengan demikian Bayi minum dari payudara, dan bukan dari papila mammae. Apabila Ibu mengeluh rasa sakit, maka Bayi tidak terfiksasi secara benar.
Sebagai respon tehadap pengisapan, Prolaktin dikeluarkan dari Glandula Pituitari Anterior, dan dengan demikian memacu pembentukan air susu yang lebih banyak. Apabila karena suatu alasan tertentu Bayi tidak dapat menyusui sejak awal, maka Ibu dapat memeras air susu dari payudaranya dengan tangan atau menggunakan pompa payudara. Tetapi pengisapan oleh Bayi akan memberikan rangsangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kedua cara tersebut.
b. Fiksasi
Fiksasi Bayi (yaitu aposisi yang benar antara lidah dengan gusi Bayi terhadap Papila dan Aerola Mammae Ibu) merupakan seni yang perlu dipelajari peserta didik sebelum Mereka mencoba melatih Ibu-Ibu muda. Ibu, Bayi, dan Bidan yang mengajari perlu menemukan posisi yang nyaman untuk mencapai maksud ini dan mungkin perlu mencoba posisi yang berbeda-beda.
c. Pengosongan Sempurna Payudara
Bayi sebaiknya mengosongkan satu payudara sebelum diberikan payudara yang lain. Apabila Bayi tidak menosongkan payudara yang kedua, maka pada pemberian air susu yang berikutnya payudara kedua ini yang diberikan pertama kali. Atau Bayi mungkin sudah kenyang dengan satu payudara, maka payudara yang kedua digunakan pada pemberian air susu berikutnya. Apabila diinginkan agar Bayi benar-benar puas/ kenyang maka Bayi perlu diberikan baik air susu pertama maupun air susu kedua pada saat sekali minum. Hal ini hanya dapat dicapai dengan pengosongan sempurna pada satu payudara.
Penting bahwa Bayi minum air susu. Apabila Ia menginginkanya dan selama Ia ingin minum, maka penyediaan jangan sampai tidak cukup atau berlebihan. Apabila air susu yang diproduksi tidak dikeluarkan, maka Laktasi akan tertekan (mengalami hambatan) karena terjadi pembengkakkan Alveoli dan sel kelenjar tidak dapat berkontraksi. Air susu Ibu tidak dapat dipaksa masuk kedalam Duktus Lactifer. Tidak terlalu ditekankan disini bahwa memberikan air susu Ibu saat dibutuhkan dan melakukan Stipping Payudara setiap menyusukan anak juga penting untuk memelihara laktasi. Rutinitas dan pola minum air susu Ibu akan terbentuk dan minumannya akan lebih jarang apabila laktasi telah berfungsi penuh.

Berikut ini kiat masase payudara yg dapat anda praktekkan sejak hari ke-2 usai persalinan, sebanyak 2 kali sehari.

Cucilah tangan sebelum memasase. Lalu tuangkan minyak ke dua belah telapak tangan secukupnya. Pengurutan dimulai dengan ujung jari, caranya :

Sokong payudara kiri dengan tangan kiri. Lakukan gerakan kecil dengan dua atau tiga jari tangan kanan, mulai dari pangkal payudara dan berakhir dengan gerakan spiral pada daerah putting susu



Selanjutnya buatlah gerakan memutar sambil menekan dari pangkal payudara dan berakhir pada putting susu di seluruh bagian payudara. Lakukan gerakan seperti ini pada payudara kanan.


Gerakan selanjutnya letakkan kedua telapak tangan di antara dua payudara. Urutlah dari tengah ke atas sambil mengangkat kedua payudara dan lepaskan keduanya perlahan. Lakukan gerakan ini kurang lebih 30 kali. Variasi lainnya dalah gerakan payudara kiri dengan kedua tengan, ibu jari di atas dan empat jari lainnya di bawah. Peras dengan lembut payudara sambil meluncurkan kedua tangan ke depan ke arah puting susu. Lakukan hal yg sama pada payudara kanan.

Lalu cobalah posisi tangan paralel. Sangga payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah pangkal payudara ke arah puting susu. Lakukan gerakan ini sekitar 30 kali. Setelah itu, letakkan satu tangan di sebelah atas dan satu lagi di bawah payudara. Luncurkan kedua tangan secara bersamaan ke arah putting susu dengan cara memutar tangan. Ulangi gerakan ini sampai semua bagian payudara terkena urutan.


Semua gerakan itu bermanfaat melancarkan refleks pengeluaran ASI. Selain itu juga merupakan cara efektif menigkatkan volume ASI. Terakhir yg tak kalah penting, mencegah bendungan pada payudara.


E. Air Susu Ibu
Air susu ibu (ASI) adalah cairan kehidupan yang sangat dibutuhkan oleh bayi. Dalam ASI terkandung berbagai zat yang penting untuk tumbuh kembang bayi. Terutama ASI yang keluar pertama kali (colostrums) yang mengandung zat penting untuk kekebalan tubuh.

Namun, tidak semua ibu memahami tentang pentingnya ASI. Di antara mereka masih ada yang enggan menyusui anak sendiri dengan berbagai alasan. Misalnya takut tubuh menjadi gemuk, tidak punya waktu, dan berbagai alasan lainnya.
a.Komposisi ASI
Kandungan colostrum berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum mengandung berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum dan hanya sekitar 1% dalam air susu mature, lebih banyak mengandung imunoglobin A (Iga), laktoterin dan sel-sel darah putih, terhadap, yang kesemuanya sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi, terhadap serangan penyakit (Infeksi) lebih sedikit mengandung lemak dan laktosa, lebih banyak, mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn).
Berdasrkan sumber dari food and Nutrition Boart, National research Council Washington tahun 1980 diperoleh perkiraan komposisi Kolostrum ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml seperti tertera pada tabel berikut: (4)






Tabel 1
Komposisi Kolostrum, ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml




Zat-zat Gizi Kolostrum ASI Susu Sapi
Energi (K Cal)
Protein (g)
- Kasein/whey
- Kasein (mg)
- Laktamil bumil (mg)
- Laktoferin (mg)
- Ig A (mg)

Laktosa (g)
Lemak (g)
Vitamin
- Vit A (mg)
- Vit B1 (mg)
- Vit B2 (mg)
- Asam Nikotinmik (mg)
- Vit B6 (mg)
- Asam pantotenik
- Biotin
- Asam folat
- Vit B12
- Vit C
- Vit D (mg)
- Vit Z
- Vit K (mg)

Mineral
- Kalsium (mg)
- Klorin (mg)
- Tembaga (mg)
- Zat besi (ferrum) (mg)
- Magnesium (mg)
58
2,3
140
218
330
364
5,3
2,9
151
1,9
30
75
-
183
0,06
0,05
0,05
5,9
-
1,5
-
39
85
40
70
4
14
74
48
22 70
0,9
1 : 1,5
187
161
167
142
7,3
4,2
75
14
40
160
12-15
246
0,6
0,1
0,1
5
0,04
0,25
1,5
35
40
40
100
4
15
57
15
14 65
3,4
1 : 1,2
-
-
-
-
4,8
3,9
41
43
145
82
64
340
2,8
,13
0,6
1,1
0,02
0,07
6
130
108
14
70
12
120
145
58
30


b. Manajemen Laktasi
manajemen laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya.
Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut
a. Pada masa Kehamilan (antenatal)
- Memberikan penernagan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan ASI, manfaat menyusui baik bagi ibu maupun bayinya, disamping bahaya pemberian susu botol.
- Pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara/keadaan putting susu, apakah ada kelainan atau tidak. Disamping itu perlu dipantau kenaikan berat badan ibu hamil.
- Perawatan payudara mulai kehamilan umur enam bulan agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup.
- Memperhatikan gizi/makanan ditambah mulai dari kehamilan trisemester kedua sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat belum hamil.
- Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Dalam hal ini perlu diperhatikan keluarga terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan dukungan dan membesarkan hatinya.
b. Pada masa segera setelah persalinan (prenatal)
- Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara menysui yang baik dan benar, yakni: tentang posisi dan cara melakatkan bayi pada payudara ibu.
- Membantu terjadinya kontak langsung antara bayi-ibu selama 24 jam sehari agar menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.
- Ibu nifas diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000S1) dalam waktu dua minggu setelah melahirkan.
c. Pada masa menyusui selanjutnya (post-natal)
- Menyusui dilanjutkan secara ekslusif selama 4 bulan pertama usia bayi, yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman lainnya.
- Perhatikan gizi/makanan ibu menyusui, perlu makanan 1 ½ kali lebih banyak dari biasa dan minum minimal 8 gelas sehari.
- Ibu menyusui harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.
- Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang keberhasilan menyusui.
- Rujuk ke Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada permasalahan menysusui seperti payudara banyak disertai demam.
- menghubungi kelompk pendukung ASI terdekat untuk meminta pengalaman dari ibu-ibu lain yang sukses menyusui bagi mereka.
- Memperhatikan gizi/makanan anak, terutama mulai bayi 4 bulan, berikan MP ASDI yang cukup baik kuantitas maupun kualitas.
c. keuntungan ASI
1.Keuntungan untuk bayi:
• ASI adalah makanan alamiah yang disediakan untuk bayi anda. Dengan komposisi nutrisi yang sesuai untuk perkembangan bayi sehat.

• ASI mudah dicerna oleh bayi.

• Jarang menyebabkan konstipasi.

• Nutrisi yang terkandung pada ASI sangat mudah diserap oleh bayi.

• ASI kaya akan antibody(zat kekebalan tubuh) yang membantu tubuh bayi untuk melawan infeksi dan penyakit lainnya..

• ASI dapat mencegah karies karena mengandung mineral selenium.

• Dari suatu penelitian di Denmark menemukan bahwa bayi yang diberikan ASI samapi lebih dari 9 bulan akan menjadi dewasa yang lebih cerdas. Hal ini diduga karena Asi mengandung DHA/AA.

• Bayi yang diberikan ASI eksklusif samapi 4 bln akan menurunkan resiko sakit jantung bila mereka dewasa.

• ASI juga menurunkan resiko diare, infeksi saluran nafas bagian bawah, infeksi saluran kencing, dan juga menurunkan resiko kematian bayi mendadak.

• Memberikan ASI juga membina ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi.


2.Keuntungan untuk ibu:
• Memberikan ASI segera setelah melahirkan akan meningkatkan kontraksi rahim, yang berarti mengurangi resiko perdarahan.

• Memberikan ASI juga membantu memperkecil ukuran rahim ke ukuran sebelum hamil.

• Menyusui (ASI) membakar kalori sehingga membantu penurunan berat badan lebih cepat.

• Beberapa ahli menyatakan bahwa terjadinya kanker payudara pada wanita menyusui sangat rendah.

Karena begitu besar manfaat dari ASI maka WHO dan UNICEF menganjurkan agar para ibu memberikan ASI EKSKLUSIF yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan pendamping hingga bayi berusia 6 bulan.

Begitu banyak keuntungan yang diberikan Air Susu Ibu baik untuk ibu maupun bayi. Berikanlah Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi anda sebagai hadiah terindah dalam menyambut kelahirannya.
3. Manfaat ASI bagi keluarga :
Dengan meneteki, pengeluaran untuk makanan
bayi relatif sangat kecil, sementara jika memberi
makanan buatan kepada bayi dapat menghabiskan
sekitar 20–90% dari pendapatan keluarga. Biaya
untuk membeli 1 kaleng susu formula (saat ini
berharga sekitar Rp. 100.000/400 gr yang akan
habis dalam waktu 3 hari, dalam 1 bulan seorang
bayi memerlukan sekitar 8 kaleng x Rp. 100.000 =
Rp. 800.000–Rp 1.000.000,- bila tidak mendapat
ASI dari ibunya. Hal ini jelas sangat
mempengaruhi jatah makan keluarga se hari-hari.
4. Manfaat ASI bagi Masyarakat
Meneteki/memberi ASI kepada bayi sangat
penting untuk mengatasi masalah kelaparan. Pada
kebanyakan masyarakat, banyak keluarga dan
individu tidak mempunyai makanan yang cukup,
oleh karena itu sering menderita kelaparan.
Dengan meneteki dapat memberi jaminan pangan
yang sangat penting bagi keluarga yang
mengalami kekurangan pangan dalam situasi
darurat.
Para Ibu harus yakin bahwa mereka dapat
memberikan makanan yang terbaik bagi bayi
mereka. Bahkan Ibu yang kelaparan karena tidak
mampu membeli makanan mereka setiap hari
masih dapat memberi ASI lebih sering dari pada
ibu yang mendapat makanan cukup.
Selain itu, bayi yang mendapat ASI memiliki IQ
lebih tinggi dari yang tidak mendapat, maka
masyarakat akan diuntungkan. Ibu lebih sehat dan
biaya untuk kesehatan lebih kecil.
Meneteki/memberi ASI merupakan cara terbaik
untuk meningkatkan kelangsungan hidup anak.
5.Manfaat ASI bagi lingkungan
Kita hidup di dunia yang penuh polusi. Dengan
meneteki/memberi ASI, tidak menimbulkan
sampah; setiap ibu yang meneteki dapat
mengurangi masalah polusi dan sampah. Dengan
meneteki/memberi ASI tidak membutuhkan lahan,
air, metal, plastik dan minyak yang semuanya dapat
merusak lingkungan, Dengan demikian,
meneteki/memberi ASI dapat melindungi
lingkungan hidup kita.
Kita pertimbangkan beberapa fakta berikut ini :
• Jika setiap bayi di Amerika diberi ASI, akan
menghemat sekitar 86.000 kaleng susu yang
seharusnya dapat digunakan untuk membuat
550 juta kaleng susu; dan 1.230 ton kertas
(label susu kaleng )
• Makanan botol, kempeng dan peralatan
lainnya, membutuhkan plastik, karet dan
silikon. Tahun 1987 misalnya 4,5 juta botol
susu hanya di Pakistan. Jumlah untuk setiap
bayi bahkan lebih besar di negara industri.
Sampah ini menghabiskan sumber daya alam
dan menambah masalah pembuangan sampah.
• Air untuk susu buatan, botol dan dot harus
disterilisasi terlebih dahulu sebelum
digunakan. Untuk itu diperlukan sekitar 200
gr kayu untuk memanaskan 1 liter air; dalam 1
tahun bayi yang diberi makanan buatan akan
menghabiskan paling sedikit sekitar 73 kg
kayu.
• Selain air, peralatan dapur untuk menyiapkan
susu formula merupakan sumber kontaminasi
yang perlu diwaspadai.
• Pada tahun 70’an, perawat kesehatan
masyarakat di Canada menurunkan tingkat
timah hitam pada bayi yang berasal dari sodder
timah hitam dari panci listrik yang digunakan
untuk mendidihkan air untuk mengencerkan
susu formula.

BAB III
PENUTUP



A. KESIMPULAN
- Air Susu Ibu merupakan makanan yang terbaik bagi bayi yang harus diberikan pada bayi sampai bayi berusia 4 bulan tanpa makanan pendamping.
- Adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar persentase ASI secara Eksklusif.
- Masih rendahnya tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang pemberian ASI.

B. SARAN
- Perlu peningkatan penyuluhan kesehatan secara umum khususnya tentang ASI dan menyusui kepada masyarakat, khususnya kepada ibu hamil tentang gizi dan perawatan payudara selama masa kehamilan, sehingga produksi ASI cukup.
- Perlu ditingkatkan peranan tenaga kesehatan baik di rumah sakit, klinik bersalin, Posyandu di dalam memberikan penyuluhan atau petunjuk kepada ibuhami, ibu baru melahirkan dan ibu menyusui tentang ASI dan menyusui.


DAFTAR PUSTAKA
Arisman, Dr. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Penerbit Buku Kedokteran ECG. Palembang:2002.

www.google.com /” Breastfeeding and Food Security ”; WABA Activity Sheet 10 oleh Lucia V. Pardede, SKM, MSc.; Jakarta, 25 Oktober 2008

www.google.com /Dr.Suririnah-www.InfoIbu.com

5 Ways to Wellbeing

5 Ways to Wellbeing

5 Ways to Wellbeing
The start of a new year is the perfect excuse to take time to focus on yourself and even jump start some lifestyle changes. Reflect on the past year and set self-improvement goals for yourself. While the task might seem daunting, you can easily pinpoint an area or two of focus and then select easily implemented, easily achievable goals. For example, try focusing on health and personal wellbeing. Lay out goals for yourself that you can achieve each day, such as exercising for 30 minutes, rather than the perhaps overwhelming goal of losing ‘x’ number of kilos or pounds.
Here are some health tips for the new year, all of which are suggestions anyone can implement to start 2011 on the path to wellness:
1. Get sleep
Study after study has shown that most people do not get enough sleep, especially women. Sleep is non-negotiable if you want to be healthy, active, alert and productive. Set your schedule each day to give yourself an ample amount of sleep for the night and stick to it.
2. Watch your saturated fat and sodium intake
People are quick to glance at the total fat in foods, but what really should be of concern is saturated fat and sodium. Most people are unaccustomed to being aware of their sodium intake, but sodium sneaks into just about every processed food, and especially food in restaurants. High amounts of both saturated fat and sodium are unhealthy, so make it a point to start checking nutrition facts for those two saboteurs.
3. Floss
Flossing is one of the easiest health routines to incorporate into a day (or night), but surprisingly few people floss regularly. Flossing keeps gums healthy and, although it seems nonsensical, actually protects against heart disease. This is because flossing prevents gum disease, which often leads to heart disease. Keep your smile, mouth and heart healthy and take a couple minutes before bed each night to floss.
4. Enjoy your exercise
Many people see exercise as a job or a chore, and as a result, they dread doing it, if they even do it at all. Keep your exercise fun, and you will be more likely to work out regularly. Try physical experience days such rock climbing, and you could become so enamoured of new hobbies they turn into 21st birthday present ideas.
5. Take time to relax
We women make list upon list and triple book our schedules, but the most important time of the day is the time we take for ourselves. If you have to schedule it in, do it, but leave yourself at least half an hour, perhaps when coming home from work or before going to bed, when you take ‘you time’ to, say, enjoy a bath or start a novel.

Etymology

Etymology

Early historical perspective


In ancient Egypt, midwifery was a recognized female occupation, as attested by the Ebers papyrus which dates from 1900 to 1550 BCE. Five columns of this papyrus deal with obstetrics and gynecology, especially concerning the acceleration of parturition and the birth prognosis of the newborn. The Westcar papyrus, dated to 1700 BCE, includes instructions for calculating the expected date of confinement and describes different styles of birth chairs. Bas reliefs in the royal birth rooms at Luxor and other temples also attest to the heavy presence of midwifery in this culture.[6]
Midwifery in Greco-Roman antiquity covered a wide range of women, including old women who continued folk medical traditions in the villages of the Roman Empire, trained midwives who garnered their knowledge from a variety of sources, and highly trained women who were considered female physicians.[7] However, there were certain characteristics desired in a “good” midwife, as described by the physician Soranus of Ephesus in the 2nd century. He states in his work, Gynecology, that “a suitable person will be literate, with her wits about her, possessed of a good memory, loving work, respectable and generally not unduly handicapped as regards her senses [i.e., sight, smell, hearing], sound of limb, robust, and, according to some people, endowed with long slim fingers and short nails at her fingertips.” Soranus also recommends that the midwife be of sympathetic disposition (although she need not have borne a child herself) and that she keep her hands soft for the comfort of both mother and child.[8] Pliny, another physician from this time, valued nobility and a quiet and inconspicuous disposition in a midwife.[9] A woman who possessed this combination of physique, virtue, skill, and education must have been difficult to find in antiquity. Consequently, there appears to have been three “grades” of midwives present in ancient times. The first was technically proficient; the second may have read some of the texts on obstetrics and gynecology; but the third was highly trained and reasonably considered a medical specialist with a concentration in midwifery.[9]
Midwives were known by many different titles in antiquity, ranging from iatrinÄ“ (Gr. nurse), maia (Gr., midwife), obstetrix (Lat., obstetrician), and medica (Lat., doctor) (.[10] It appears as though midwifery was treated differently in the Eastern end of the Mediterranean basin as opposed to the West. In the East, some women advanced beyond the profession of midwife (maia) to that of gynaecologist (iatros gynaikeios, translated as women's doctor), for which formal training was required. Also, there were some gynecological tracts circulating in the medical and educated circles of the East that were written by women with Greek names, although these women were few in number. Based on these facts, it would appear that midwifery in the East was a respectable profession in which respectable women could earn their livelihoods and enough esteem to publish works read and cited by male physicians. In fact, a number of Roman legal provisions strongly suggest that midwives enjoyed status and remuneration comparable to that of male doctors.[8] One example of such a midwife is Salpe of Lemnos, who wrote on women’s diseases and was mentioned several times in the works of Pliny.[9]
However, in the Roman West, our knowledge of practicing midwives comes mainly from funerary epitaphs. Two hypotheses are suggested by looking at a small sample of these epitaphs. The first is the midwifery was not a profession to which freeborn women of families that had enjoyed free status of several generations were attracted; therefore it seems that most midwives were of servile origin. Second, since most of these funeral epitaphs describe the women as freed, it can be proposed that midwives were generally valued enough, and earned enough income, to be able to gain their freedom. It is not known from these epitaphs how certain slave women were selected for training as midwives. Slave girls may have been apprenticed, and it is most likely that mothers taught their daughters.[8]
The actual duties of the midwife in antiquity consisted mainly of assisting in the birthing process, although they may also have helped with other medical problems relating to women when needed. Often, the midwife would call for the assistance of a physician when a more difficult birth was anticipated. In many cases the midwife brought along two or three assistants.[11] In antiquity, it was believed by both midwives and physicians that a normal delivery was made easier when a woman sat upright. Therefore, during parturition, midwives brought a stool to the home where the delivery was to take place. In the seat of the birthstool was a crescent-shaped hole through which the baby would be delivered. The birthstool or chair often had armrests for the mother to grasp during the delivery. Most birthstools or chairs had backs which the patient could press against, but Soranus suggests that in some cases the chairs were backless and an assistant would stand behind the mother to support her.[8] The midwife sat facing the mother, encouraging and supporting her through the birth, perhaps offering instruction on breathing and pushing, sometimes massaging her vaginal opening, and supporting her perineum during the delivery of the baby. The assistants may have helped by pushing downwards on the top of the mother's abdomen.
Finally, the midwife received the infant, placed it in pieces of cloth, cut the umbilical cord, and cleansed the baby.[9] The child was sprinkled with “fine and powdery salt, or natron or aphronitre” to soak up the birth residue, rinsed, and then powdered and rinsed again. Next, the midwives cleared away any and all mucus present from the nose, mouth, ears, or anus. Midwives were encouraged by Soranus to put olive oil in the baby’s eyes to cleanse away any birth residue, and to place a piece of wool soaked in olive oil over the umbilical cord. After the delivery, the midwife made the initial call on whether or not an infant was healthy and fit to rear. She inspected the newborn for congenital deformities and testing its cry to hear whether or not it was robust and hearty. Ultimately, midwives made a determination about the chances for an infant’s survival and likely recommended that a newborn with any severe deformities be exposed.[8]
A 2nd-century terracotta relief from the Ostian tomb of Scribonia Attice, wife of physician-surgeon M. Ulpius Amerimnus, details a childbirth scene. Scribonia was a midwife and the relief shows her in the midst of a delivery. A patient sits in the birthing chair, gripping the handles and the midwife’s assistant stands behind her providing support. Scribonia sits on a low stool in front of the woman, modestly looking away while also assisting the delivery by dilating and massaging the vagina, as encouraged by Soranus.[9]
The services of a midwife were not inexpensive; this fact that suggests poorer women who could not afford the services of a professional midwife often had to make do with female relatives. Many wealthier families had their own midwives. However, the vast majority of women in the Greco-Roman world very likely received their maternity care from hired midwives. They may have been highly trained or only possessed a rudimentary knowledge of obstetrics. Also, many families had a choice of whether or not they wanted to employ a midwife who practiced the traditional folk medicine or the newer methods of professional parturition.[8] Like a lot of other factors in antiquity, quality gynecological care often depended heavily on the socioeconomic status of the patient.
During the Christian era in Europe, midwives became important to the church due to their role in emergency baptisms, and found themselves regulated by Roman Catholic canon law.[12] In Medieval times, childbirth was considered so deadly that the Christian Church told pregnant women to prepare their shrouds and confess their sins in case of death. The Church pointed to Genesis 3:16 as the basis for pain in childbirth, where Eve's punishment for her role in disobeying God was that he would "multiply thy sorrows, and thy conceptions: in sorrow shalt thou bring forth children." A popular medieval saying was, "The better the witch; the better the midwife"; to guard against witchcraft, the Church required midwives to be licensed by a bishop and swear an oath not to use magic when assisting women through labour.[13]

Congratulations, You're Pregnant!

Congratulations, You're Pregnant!

Let the decision-making begin. Choosing a health care provider to care for you and your baby during your pregnancy is one of the biggest decisions you'll make.
In the United States, women's choices once were limited to an obstetrician or a knowledgeable family doctor. But in recent years midwives became another alternative for women with low-risk, uncomplicated pregnancies.
In Europe, midwives assist at more than 70% of normal vaginal births. Though midwives delivered only 7% of American babies in 2003, that percentage has been increasing since 1975. But most Americans aren't sure what midwives do, how they're trained, or if they're even available. Is a midwife a viable option for you?

The History of Midwives

The word "midwife" comes from Old English and means "with woman." Midwives have helped women deliver babies since the beginning of history. References to midwives are found in ancient Hindu records, in Greek and Roman manuscripts, and even in the Bible.
As early as 1560, Parisian midwives had to pass a licensing examination and abide by regulations to practice. Not all midwives had this level of education, however. English midwives received little formal training and weren't licensed until 1902. America inherited the English model of midwifery.
Early American midwives usually learned their craft through apprenticeship and tradition. They were not educated about scientific advances in fighting infection through hygiene and drugs such as penicillin. By the early 20th century, women and their babies were more likely to die under the care of midwives than under the care of doctors.
Around this time, American medical doctors began a campaign against midwifery in the press, the courts, and Congress. They cited the poor outcomes for mothers and babies under the care of midwives. Doctors might also have viewed midwives as competition.

Embryonic and fetal development

Embryonic and fetal development


Prenatal development is divided into two primary biological stages. The first is the embryonic stage, which lasts for about two months. At this point, the fetal stage begins. At the beginning of the fetal stage, the risk of miscarriage decreases sharply,[36] all major structures including the head, brain, hands, feet, and other organs are present, and they continue to grow and develop. When the fetal stage commences, a fetus is typically about 30 mm (1.2 inches) in length, and the heart can be seen beating via sonograph; the fetus bends the head, and also makes general movements and startles that involve the whole body.[37] Some fingerprint formation occurs from the beginning of the fetal stage.[38]
Electrical brain activity is first detected between the 5th and 6th week of gestation, though this is still considered primitive neural activity rather than the beginning of conscious thought, something that develops much later in fetation. Synapses begin forming at 17 weeks, and at about week 28 begin to multiply at a rapid pace which continues until 3–4 months after birth. It is not until week 23 that the fetus can survive, albeit with major medical support, outside of the womb, because it does not possess a sustainable human brain until that time.[39]
One way to observe prenatal development is via ultrasound images. Modern 3D ultrasound images provide greater detail for prenatal diagnosis than the older 2D ultrasound technology.[44] While 3D is popular with parents desiring a prenatal photograph as a keepsake,[45] both 2D and 3D are discouraged by the FDA for non-medical use,[46][dead link] but there are no definitive studies linking ultrasound to any adverse medical effects.[47] The following 3D ultrasound images were taken at different stages of pregnancy:
Some people are confused about the differences between an ultrasound and a sonogram. An ultrasound is the actual machine that lets you observe pregnancy. A sonogram is the image of the baby that the ultrasound produces. 4D Ultrasounds take 3D sonograms. Some people refer to the procedure as prenatal imaging, 3D imaging, a 3D scan, or 4D scan.

Physiological changes


Melasma pigment changes to the face due to pregnancy
During pregnancy, the woman undergoes many physiological changes, which are entirely normal, including cardiovascular, hematologic, metabolic, renal and respiratory changes that become very important in the event of complications. The body must change its physiological and homeostatic mechanisms in pregnancy to ensure the fetus is provided for. Increases in blood sugar, breathing and cardiac output are all required. Levels of progesterone and oestrogens rise continually throughout pregnancy, suppressing the hypothalamic axis and subsequently the menstrual cycle. The woman and the placenta also produce many hormones.

Managemen

Prenatal medical care is the medical and nursing care recommended for women before and during pregnancy. The aim of good prenatal care is to detect any potential problems early, to prevent them if possible (through recommendations on adequate nutrition, exercise, vitamin intake etc.), and to direct the woman to appropriate specialists, hospitals, etc. if necessary.

Nutritis

A balanced, nutritious diet is an important aspect of a healthy pregnancy. Eating a healthy diet, balancing carbohydrates, fat, and proteins, and eating a variety of fruits and vegetables, usually ensures good nutrition. Those whose diets are affected by health issues, religious requirements, or ethical beliefs may choose to consult a health professional for specific advice.
Adequate periconceptional folic acid (also called folate or Vitamin B9) intake has been proven to limit fetal neural tube defects, preventing spina bifida, a very serious birth defect. The neural tube develops during the first 28 days of pregnancy, explaining the necessity to guarantee adequate periconceptional folate intake.[48][49] Folates (from folia, leaf) are abundant in spinach (fresh, frozen, or canned), and are found in green leafy vegetables e.g. salads, beets, broccoli, asparagus, citrus fruits and melons, chickpeas (i.e. in the form of hummus or falafel), and eggs. In the United States and Canada, most wheat products (flour, noodles) are fortified with folic acid.[50]
DHA omega-3 is a major structural fatty acid in the brain and retina, and is naturally found in breast milk. It is important for the woman to consume adequate amounts of DHA during pregnancy and while nursing to support her well-being and the health of her infant. Developing infants cannot produce DHA efficiently, and must receive this vital nutrient from the woman through the placenta during pregnancy and in breast milk after birth.[51]
Several micronutrients are important for the health of the developing fetus, especially in areas of the world where insufficient nutrition is prevalent.[52] In developed areas, such as Western Europe and the United States, certain nutrients such as Vitamin D and calcium, required for bone development, may require supplementation.[53][54][55]
Dangerous bacteria or parasites may contaminate foods, particularly Listeria and toxoplasma, toxoplasmosis agent. Careful washing of fruits and raw vegetables may remove these pathogens, as may thoroughly cooking leftovers, meat, or processed meat. Soft cheeses may contain Listeria; if milk is raw, the risk may increase. Cat feces pose a particular risk of toxoplasmosis. Pregnant women are also more prone to Salmonella infections from eggs and poultry, which should be thoroughly cooked. Practicing good hygiene in the kitchen can reduce these risks.[56]

Weight gain

Caloric intake must be increased to ensure proper development of the fetus. The amount of weight gained during a single pregnancy varies among women. The Institute of Medicine recommends an overall pregnancy weight gain for women starting pregnancy at a normal weight, with a body mass index of 18.5-24.9, of 25-35 pounds (11.4-15.9 kg).[57] Women who are underweight, with a BMI of less than 18.5, may need to gain between 28-40 lbs. Overweight women are advised to gain between 15-25 lbs, whereas an obese woman may expect to gain between 11-20 lbs. Doctors and dietitians may make different, or more individualized, recommendations for specific patients, based on factors including low maternal age, nutritional status, fetal development, and morbid obesity.
During pregnancy, insufficient or excessive weight gain can compromise the health of the mother and fetus. All women are encouraged to choose a healthy diet regardless of pre-pregnancy weight. Exercise during pregnancy, such as walking and swimming, is recommended for healthy pregnancies. Exercise has notable health benefits for both mother and baby, including preventing excessive weight gain.[58]

Immune tolerance

The fetus inside a pregnant woman may be viewed as an unusually successful allograft, since it genetically differs from the woman.[59] In the same way, many cases of spontaneous abortion may be described in the same way as maternal transplant rejection.[59]

Medication use

Drugs used during pregnancy can have temporary or permanent effects on the fetus. Therefore many physicians would prefer not to prescribe for pregnant women, the major concern being over teratogenicity of the drugs.
Drugs have been classified into categories A,B,C,D and X based on the Food and Drug Administration (FDA) rating system to provide therapeutic guidance based on potential benefits and fetal risks. Drugs like multivitamins that have demonstrated no fetal risks after controlled studies in humans are classified as Category A. On the other hand drugs like thalidomide with proven fetal risks that outweigh all benefits are classified as Category X.[60]